Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email
Suluk secara harfiah berarti menempuh (jalan)
Dalam kaitannya dengan agama Islam dan sufisme, kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah.
20 Mar 2016
‘Menempuh jalan suluk’ berarti memasuki sebuah disiplin selama seumur hidup..
Untuk menyucikan qalb dan membebaskan nafs (jiwa) dari dominasi jasadiyah dan keduniawian, dibawah bimbingan seorang mursyid sejati (yang telah meraih pengenalan akan diri sejatinya dan Rabb-ny
20 Mar 2016
Flexible Display providing efficient compatibility.
Hardware accelerated using CSS3 for supported iOS
and enjoy the Amazing Slide Experience.
20 Mar 2016
Customize it to the deepist according to the needs.
Hardware accelerated using CSS3 for supported iOS
and enjoy the Amazing Slide Experience.
20 Mar 2016

Tuesday, March 21, 2017

Demam Ekonomi Syariah di Sulut

Tony
Ekonomi syariah memberikan sumbangsih hang signifikan terhadap  perekonomian nasoional maupun daerah termasuk Sulawesi Utara (Sulut). Oleh karena itu ekonomi tersebut harus Kembangkan.

"Dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah BI telah menyusun tiga pilar untuk pengembangannya," ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut, Soekowardojo dalam Kunjungan Kerja Reses Anggota DPR RI Komisi XI Fraksi Partai Golkar Sulut di Pondok Pesantren Darul Istiqomah, Rabu (8/3/2019).

Tiga pilar tersebut terdiri dari pemberdayaan ekonomi syariah, pendalaman pasar keuangan syariah, serta penguatan riset, asesmen dan ekonomi syariah.

Pemberdayaan ekonomi syariah melalui lembaga pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam yang mandiri secara ekonomi,  serta profesional sehingga mampu mencetak lulusan yang memiliki keunggulan dalam bidang ilmu agama, ilmu modern dan enterpreneurhip sehingga mampu untuk menjawab kebutuhan pengadaan  sumber daya insani, yang selain memiliki tingkat pengetahua  teknis yang relevan dengan industri, juga memiliki inner beauty yang  juga sangat diperlukan untuk keberhasilan usaha. (tribunnews)

Film Sunan Kalijaga

Tony

Film religi Sunan Kalijaga pernah tenar di masa lalu.

Ntah kepana saat ini fil-film seperti ini sudah jarang muncul kembali.

Apakah karena santri sudah tak mengerti membuat film?

Berikut potongan filmnya: (sumber film diambil dari akun di Youtube)


Santri Mengajar: Menjadi Ustaz Pengabdian di Pesantren Kamboja, Vietnam dan Pedalaman Malaysia-Indonesia

Tony
Para santri yang berbakat di sebuah pesantren bisanya akan ditawarkan untuk melakukan pengabdian mengajar di pesantren tersebut dan cabang-cabang di tempat lain.

Namun tidak semua beruntung karena kuota yang tidak banyak. Ada yang berinovasi dengan membuka kesempatan mengabdi di masjid-masjid yang mempunyai lembaga pendidikan seperti TPA, pengajian dan lain sebagainya.

Sekarang ini sedang tren untuk mengabdi di lembaga pendidikan di pedalaman karena terdapat sisi petualangan yang disukai oleh beberapa orang tertentu.

Selain itu mengabdi di pedalaman masih membuka berbagai kesempatan lain selain aktivitas pengabdian. Misalnya masih terdapat kesempatan membuka usaha, belajar bahasa setempat dan lain sebagainya.

Pengabdian atau tugas belajar juga sebenarnya bisa dilakukan di luar negeri, khususnya di tempat yang masih membutuhkan guru. Misalnya di Kamboja, Vietnam atau di pedalaman Sabah yang di dalamnya terdapat pusat pembelajaran bagi anak-anak TKI.

Tentu, yang paling dibutuhkan adalah kemampuan untuk mempelajari budaya dan bahasa setempat agar mudah beradaptasi.

Selain itu, seorang aktivis pengabdian harus mampu belajar otodidak agar tidak tertinggal dengan sistem pendidikan yang kemungkinan berbeda di lokasi tersebut. Belajar otodidak itu bisa untuk menguasai sistem kurikulum, karakteristik mengajar dan lain sebagainya, bila tidak terbuka kemungkinan untuk kuliah di daerah terdekat.

Pengabdian juga dituntut hidup mandiri dan berusaha menjalani usha yang tidak berbenturan dengan kegiatannya. Secara umum, pengabdian sebagai tugas mengajar hampir sama dengan berbagai kegiatan lainnya seperti Indonesia Mengajar dan lain sebagainya.



Monday, March 20, 2017

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah, Tanjung Balai

Tony

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah terletak di jalan Masjid, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjung Balai Selatan, Kota Tanjung Balai Selatan, Sumatera Utara (lihat peta). Masjid dibangun di atas tanah wakaf Kesultanan Asahan dengan luas 10.000 M2 dengan luas bangunan 1000 m2

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai didirikan mulai pada tahun 1884 dan selesai dibangun pada tahun 1886. Penggagas berdirinya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah adalah Sultan Ahmadsyah yang bergelar Marhum Maharaja Indrasakti yang memerintah Kesultanan Asahan mulai tahun 1854 hingga 1888, sultan ke-9 dari Kesultanan Asahan. Ahmadsyah naik tahta setelah menggantikan ayahnya Sultan Muhammad Hussein Syah (1813-1854) sebagai sultan ke-8 yang pernah memerintah di Kesultanan Asahan.

Sultan Ahmadsyah pada masa pemerintahannya dikenal dengan pemimpin yang arif lagi bijaksana dan negeri Asahan banyak mengalami kemajuan. Penduduk sangat menyenangi beliau karena dalam masa pemerintahannya sangat memperhatikan dan melindungi kepentingan rakyatnya dan juga mempunyai sikap yang tegas dalam menyelesaikan suatu masalah yang timbul antara rakyat dengan rakyat dan rakyat dengan pemerintah dan dalam suatu mengambil keputusan tidak menguntungkan satu pihak dan mengorbankan pihak lainnya. (sumber)

Mengenal Kerajaan Kunto Darussalam, Riau

Tony
Kerajaan Kunto Darussalem terletak di Sumatera, Kab. Rokan Hulu, propinsi Riau.

Raja yang memerintah di kerajaan Kunto Darussalam sebanyak 8 orang, raja pertama adalah Tengku panglima Besar Kahar (1878-1884).


Tuan Syech H. Ismail Abdul Wahab Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional dari Tanjung Balai

Tony
Dalam seminar gelar Pahlawan Nasional. Pejabat Pemerintah ( Pemko ) Walikota Tanjungbalai M. Syahrial SH, MH didampingi Wakil Walikota Drs.H.Ismail dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Tanjungbalai. Ketua DPRD Bambang Harianto SE dan turut mewakili Danlanal TBA, Kapolres Tanjungbalai, Dandim 0208/AS, Danki Brimob serta Seketaris Daerah Kota ( Sekdakot ) Drs.Abdi Nusa telah menetapkan dan mengajukan Tuan Syekh H. Ismail Abdul Wahab sebagai Pahlawan Nasional Kota Tanjungbalai. Sabtu (25/2) di Pendopo rumah Dinas Walikota jalan Jendral Sudirman Kota Tanjungbalai.

Dari sejumlah nana diajukan dalam seminar itu tidak asing lagi pantas Tuan Syech H. Ismail Abdul Wahab menyandang gelar pahlawan nasional dari Kota Tanjungbalai. Abdul Wahab sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat kota tanjungbalai bahwa beliau tidak hanya dikenal sebagai ulama besar yang dicintai rakyat, masyarakat kota ini, tetapi dia merupakan seorang pejuang mempertahankan dan membela kemerdekaan RI saat Kolonial Belanda.

Baca biografinya di sini

Untuk itu Forum Seminar Pemerintah Kota Tanjungbalai dan Kabupaten Asahan serta masyarakat Kota Tanjungbalai dan Asahan berkeinginan mendorong terwujudnya Pemberian Nama Pahlawan Nasional Kota Tanjungbalai – Asahan.

Pelaksana seminar pahlawan tersebut terdiri. Ketua Pelaksana Nedi Hamlet SE. Prof. Dr. Ir. Darma Bakti. MS merupakan pengurus IKTA dan IKA-IKMASTA (lembaga Penggagas Ide pengajuan gelar pahlawan nasional. Turut hadir Narasumber diantaranya Prof. Dr. Drs. H. Ramli Abdul Hamid, Lc. Ma dengan topik Syekh Ismail Abdul Wahab sebagai Ulama Pejuang, Dr. Husnel Matondang, MA dengan topik Burhanul Ma’arifah spiritisasi teologis dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia serta Muaz Tanjung, MA.

Sebagai pembanding MUI Tanjungbalai Drs. H. Syahron Sirait S.Pd.i, Ketua LVRI Tanjungbalai Abdul Hakim Marpaung, Tokoh masyarakat H. Uspan Syuib serta keluarga Tuan Syech H.Ismail Abdul Wahab yakni Abdullah Zakaria Harahap.

Seminar tersebut disaksikan Bupati Asahan atau mewakili Nurdin Lubis dan Kemenag Tanjungbalai serta Kabupaten Asahan turut tokoh masyarakat H. Zulkifli Amsar Batubara, KNPI, SKPD Pemko Tanjungbalai, Camat, Lurah serta para kepala sekolah Kota Tanjungbalai. (baca)

Tuan Syech Alom Siagian dari Tangga Batu

Tony
ilustrasi
Tapanuli Selatan, Indonesia Off Road Federation Komisariat Cabang Tapanuli Selatan/Padangsidimpuan, yang diwakili Lindung Nasution bersama Mujur Pangidoan Harahap SE. dan www.Cahaya Reformasi.com, minggu 17/06, mencoba menahlukkan keterjalan Alam Menuju Desa Tangga Batu Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan, sambil menyerahkan berupa bantuan Sound Mick Kepada Mesjid Pilar Tangga Batu (Parsulukan) langsung diterima oleh Tuan Syech Alom Siagian.

Masyarakat Tangga Batu dalam tanggapannya mengatakan sangat berterimakasih kepada (IOF) juga Mujur Pangidoan Harahap (anggota DPRD Tapsel) serta www.cahaya reformasi.com. mudah-mudahan dengan bantuan alakadarnya ini semakin menambah kekhusukan kami dalam beribadah kepada tuhan Yang Maha Esa.  serta masih mengharapkan kehadiran IOF dan rombongan ketika penyambutan bulan suci rhomadon nanti dengan harapan permintaan Nyasid untuk warga.

Kesempatan ini dipergunakan Masyarakat Untuk menyampaikan segala Permasalahan yang ada di Desa Mumpung lagi Mujur Pangidoan Harahap, yang juga Anggota DPRD Tapanuli Selatan (Komisi II bidang pertanian, perkebunan, Perikanan)  sedang bersama mereka.  Warga Khawatir dengan Ulah Ancaman yang diduga Dari PT AR G Resources Pertambangan Batangtoru,menakut-nakuti Masyarakat, dengan dalih segeralah pindah dari sini karena ini merupakan hutan register’ meniru ucapan yang diduga karyawan PT AR G Resources sehingga membuat Masyarakat sangat ketakutan dengan Ancaman ini.  kami sangat Resah dibuatnya.  Camat Angkola Barat Ongku Muda Atas Sormin SE, ketika dikonfirmasi via seluler untuk menanyakan hal ini, kemungkinan sedang hari libur (minggu) sehingga Hp Camat Angkola Barat tidak aktif. (baca)

Thursday, September 04, 2014

Syekh Muhammad Ridwan Dalimunthe dan Persulukan Gunung Selamat

Tony
Berjarak takkurang 30 kilometer dari kota Rantauprapat. Atau, tepat dipertengahan jarak menuju Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel), Sumatera Utara makam tokoh sufi itu menjadi tujuan penziarah.

Siapa warga Labuhanbatu khususnya dan Labuhanbatu Utara (Labura) ataupun Labusel, Sumut yang tak mengenal kawasan Gunung Selamat. Terlebih lagi, dengan lokasi pemakaman tuan Guru Gunung Selamat. Kompleks itu sudah sangat terkenal di kalangan masyarakat ke tiga kabupaten itu. Bahkan, sampai ke luar daerah dan keluar negeri. Sebab, di kompleks itu, terdapat beberapa makam tuan guru yang sebelumnya sebagai pimpinan persulukan Tarekat Naqsabandiyah.

Kamis (12/8) mengenderai sepedamotor, penulis dan seorang rekan lainnya meluncur dari kota Rantauprapat. Tujuan utama mengunjungi makam dan kompleks persulukan di Desa Gunung Selamat, kecamatan Bilah Hulu, Labuhanbatu.

Di kompleks itu, penulis dan seorang rekan diterima langsung oleh pimpinan (Tuan Guru) persulukan itu. Syekh Muhammad Ridwan Dalimunthe, penerus pimpinan persulukan itu, menyebutkan kompleks itu sudah relatif lama berdiri. Bahkan, telah memasuki usia 37 tahun wafatnya pimpinan/tuan guru persulukan pertama, yakni Syekh Haji Ibrohim Dalimunthe Al Kholidi Annaksabandi. Dirinya, katanya pimpinan persulukan yang ke 5. Katanya, tuan guru pertama kelahiran tahun 1886 Masehi. Dan, wafat berusia 87 tahun di tahun 1973. “Meninggal 37 tahun silam berusia 87 tahun,” ujarnya. Katanya lagi, tuan guru pimpinan pesulukan itu merupakan murid langsung dari Persulukan Basilam Langkat. “Memang murid dari persulukan Basilam Langkat,” ujarnya. Bahkan, tambahnya merupakan murid angkatan pertama daripersulukan itu.

Ajaran tarekat di kompleks itu, akunya mengikuti ajaran tarekat Naqsabandiyah. Dimana, dalam laku ibadah lebih mengutamakan zikir qolbu. Setelah tuan guru pertama meninggal dunia, pihak Persulukan selanjutnya memberikan kepercayaan kepada syekh Djalalluddin Dalimunthe untuk menjadi tuan guru kedua memimpin persulukan. Dan, tuan guru selanjutnya dipercayakan dipimpin Syekh Syahiri Dalimunthe dan tuan guru Gunung Selamat IV adalah Syekh Harun Dalimunthe. “Pemakaman tuan guru I ketika itu langsung dihadiri oleh Bupati Labuhanbatu Iwan Maksum,” ungkapnya.

Di kompleks itu masih terdapat beberapa bangunan dan fasilitas umum (fasum) yang masih bangunan aslinya. Seperti, Rumah suluk laki-laki, rumah suluk perempuan. Dan, rumah besar peziarahan, rumah batu pahat/makhtab. “Disini dulu sebagai tempat menimba ilmu dan belajar para anak khadam,” ujarnya.

Bahkan, fasilitas yang lain dan memiliki keunikan serta keanehan (kharomah) tersendiri adalah keterdapatan dua buah sumber mata air sebagai sumur pemandian. Yakni, sumur untuk murid laki-laki. Dan, sumber air untuk pemandian murid kaum perempuan. Kata Tuan Guru Syekh Muhammad Ridwan Dalimunthe, persediaan air di sumur itu tidak pernah habis. Meskipun dimusim kemarau. “Alhamdulillah sumur itu justru dapat memberikan air kepada warga sekitar kompleks ketika dimusim kemarau,” imbuhnya. Sumur murid laki-laki dibangun sekira tahun 1950-an. Sementara, sumur murid perempuan dibangun sekira tahun 1960-an.

Persulukan di kompleks itu, ujarnya bersifat continue dan tidak musiman. Sebab, setiap saat ada murid yang melakukan persulukan. Selain itu, kompleks yang terbangun di areal seluas lebih kurang 3 hektare itu juga terdapat areal pekuburan muslim warga sekitar kompleks.

Penulis dan rekan juga diberi kesempatan untuk berkeliling di kompleks itu. Bahkan, memasuki bangunan makam tuan guru pertama dan kedua.

Selain itu, diberi kesempatan menaiki loteng di lantai 4, tempat muadjin melafadzkan najab sebelum mengumandangkan azan. Kompleks itu juga, bukan sekedar tempat bersuluk. Namun, kerap disambangi oleh warga yang ingin berziarah ke makam para tuan guru yang telah meninggal. Sebab, tak jarang warga yang memiliki keterkabulan niat bernazar ziarah ke makam itu. Rata-rata jumlah kunjungan ke makam itu perharinya sekitar 10 orang. Bahkan, pada saat tertentu jumlahnya meninkat tajam. “Ya, kalau HUL biasanya jumlah murid tarekat dan penziarah akan meningkat,” beber Syekh Muhammad Ridwan Dalimunthe.

Tanggal 14 Oktober 2010 mendatang, kompleks itu akan mengadakan HUL ke 37 tahun. Karena biasanya pelaksanaan HUL berdekatan dengan tanggal 15 Dzulkaidah tahun Islam. Diacara itu, direncanakan akan melakukan aqiqah. Dan memberi kesempatan kepada umum untuk mengikutinya. Tapi, dibatasi hanya maksimal sebanyak 21 orang. Juga, akan diselenggarakan suluk 40 hari dan mengadakan pengajian ilmu hikmah dan laduni.

Makam tuan guru Gunung Selamat, Bilah hulu Kabupaten Labuhanbatu kerap disambangi warga untuk ziarah kubur (kompasiana)

Tuan Guru Syekh H Syamsuddin Hasibuan dan Persulukan Darussalam Baru

Tony
Hari ulang tahun (HUL) ke-25 Persulukan Darussalam Baru yang terletak di Desa Terang Bulan, Kecamatan Aek Natas, Labuhanbatu Utara, Sabtu (4/5) dihadiri berbagai tokoh di Sumatera Utara, termasuk ketua DPD Partai Demokrat Sumatera Utara HT Milwan. Persulukan ini didirikan Tuan Guru Syekh M Naim Al Kholidi Naqsabandiyah sejak tahun 1926.

Tuan Guru Syekh H Syamsuddin Hasibuan dalam sambutannya mengatakan, Syekh M Naim Al Kholidi Naqsabandiyah adalah sosok pendiri persulukan yang didirikan sejak tahun 1926 dan mampu bertahan hingga saat ini.

“Hidup beliau (Syekh M Naim Al Kholidi Naqsabandiyah) senantiasa diperuntukkan guna mengembangkan agama Allah, berpindah- pindah tetap dengan tujuan menyebarkan syiar Islam. Melalui HUL ini mari bersama kita mengenang dan menjadikan visi misi selagi hayat dikandung badan, tetap berusaha untuk mengembangkan agama Allah seperti beliau,” kata Syamsuddin Hasibuan.

Dijelaskan H Syamsuddin Hasibuan menambahkan, persulukan Darussalam Baru didirikan bertujuan guna menciptakan hamba- hamba Allah yang soleh dan patuh terhadap orang tua, serta nusa dan bangsa.

Sementara Ketua DPD Partai Demokrat Sumut H T Milwan mengatakan, kehadirannya dalam peringatan HUL tersebut merupakan rasa syukur yang sangat mendalam, petunjuk dan penguatan diri.

“Saya sangat bersyukur sekali, inilah penguatan diri saya, ini merupakan petunjuk bagi saya untuk dapat hadir dan bertemu secara langsung dengan Tuan Guru Syekh H Syamsuddin Hasibuan yang merupakan imam dalam menjalankan agama Allah di persulukan ini,” kata HT Milwan.

Ditambahkan HT Milwan, tidak ada seorangpun manusia di bumi yang sempurna, alangkah baiknya dalam kekurangan dan ketidak sempurnaan itu dirinya dapat menjadi manfaat bagi orang banyak.

“Janganlah kita merasa sombong dan mengaku hebat. Sebaik-baiknya manusia itu adalah manusia yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Untuk itu, saya ingin di masa akhir saya, dapat bermanfaat bagi orang banyak,” kata H T Milwan.

Sementara Ketua MUI Kabupaten Labura H Darkin Tanjung SPd mengatakan, rasa syukur yang mendalam atas kehadiran Ketua DPD Partai Demokrat Sumut H T Milwan pada HUL tersebut, serta memberikan apresiasi terhadap niat mantan Bupati Labuhanbatu 2 periode itu untuk dapat berkumpul bersama di Persulukan Darussalam Baru.

"Pemimpin yang benar itu, adalah sosok yang tidak lupa dengan agama dan sang khalik serta perduli dengan orang banyak, untuk itu, saya sangat mendukung langkah- langkah yang dilakukan Pak  HT Milwan,” kata Ketua MUI Labura.

Bupati Labuhanbatu Utara H Khairuddinsyah Sitorus SE dalam sambutannya yang disampaikan Kepala BKD Pemkab Labura Ridwan SIP mengatakan, persulukan merupakan lembaga non formal guna menciptakan santri yang mampu mengembangkan nilai- nilai spiritual dan mental keagamaan. Pemkab Labura sangat berterima kasih sekali atas berdirinya persulukan.

“Diharapkan generasi yang dipimpin di lembaga persulukan ini dapat menjadi contoh dan tauladan serta dapat ditumbuhkembangkan ke depan,” kata Ridwan. Hadir juga dalam HUL ke-25 Tuan Guru Syekh M Naim Al Kholidi Naqsabandiyah itu, Ketua DPC Partai Demokrat Labuhanbatu H Mukhlis Hasibuan, Sekretaris DPC Partai Demokrat Ibrahim SIP, Wakil Ketua DPRD Labuhanbatu Sawal Effendi Hasibuan SE, Ketua Komisi B DPRD Labuhanbatu Akhyar P Simbolon SE dan anggota DPRD Labusel H Panggar Nasution. (metrosiantar)

Syekh Abdurrahman Rajagukguk dan Parsulukan Hatonduhan

Tony
Bupati Simalungun DR JR Saragih SH MM berharap pelaksaan HAUL Ke 3 persulukan Syekh Abdurrahman Rajagukguk QS pada 5 Januari 2013 sukses.

Harapan ini disampaikan Bupati bersama Sekretaris Daerah Drs Gidion Purba MSi, para asisten Setkab dan pimpinan SKPD saat melakukan kunjungan silahturrahmi ke pondok persulukan Tuan Guru Serambi Babussalam Majelis Zikir Thariqat Nagsyabandiyah di Nagori Jawa Tongah Kecamatan Hatonduhan, Jumat sore.

Rombongan disambut pimpinan persulukan Syekh H Ahmad Sabban Al Rahmaniy MA putra Syekh Abdurrahman Rajaguguk QS bersama dengan pengikutnya.

“Saya sangat mendukung keberadaan pondok persulukan ini, karena salah satu sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terutama dalam pembinaan mental spirituan masyarakat,” tandas Bupati.

Untuk pengembangan pondok persulukan ini, Bupati memberikan bantuan sebesar Rp200 juta kepada pimpinan pondok persulukan Syekh H Ahmad Sabban Al Rahmaniy MA.

“Saya juga berterima kasih atas perhatian Pemkab Simalungun yang telah memberikan perhatian yang begitu besar terhadap tempat kami ini yang merupakan sarana pembinaan mental/spiritual dan keimaan masyarakat,” ucap Ahmad Sabban.

Seusai dari pondok persulukan, rombongan Bupati melakukan kunjungan kerja ke kantor Pangulu Jawa Tongah. Bupati pun mengimbau kepada  aparatur nagori untuk menata sekaligus membenahi lingkungan perkantoran tersebut. (antarasumut)

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates