Sumut Perlu Bangun Madrasah di Daerah Terpencil
Beberapa desa terpencil di Sumatera Utara (Sumut) perlu dibangun Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah, guna meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di daerah itu, sesuai dengan program yang dicanangkan oleh pemerintah.
“Pembangunan madrasah di pelosok pedesaan itu, sudah saatnya dipikirkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Humas Kanwil Departemen Agama Sumut, Solehuddin di Medan, Senin, mengenai perkembangan pembangunan madrasah di daerah terpencil Sumut.
Sekolah madrasah yang perlu dibangun di daerah terpencil di Sumut itu, yakni di Desa Batang Gadis Kabupaten Mandailing Natal (Madina), sejumlah desa di Kabupaten Tapanuli Selatan, Nias, Tanah Karo, Humbang Hasundutan dan Dairi.
Pembangunan madrasah itu juga betujuan untuk mengembangkan pendidikan agama Islam hingga pelosok desa di Sumut.
“Madrasah perlu didirikan hingga pelosok desa, tidak hanya di perkotaan saja. Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil juga perlu sekolah di madrasah,” kata Solehuddin.
Ia menjelaskan penambahan pembangunan madrasah di Sumut itu perlu direalisasikan, mengingat jumlah madrasah yang ada di provinsi itu dinilai sangat terbatas.
Apalagi, katanya penduduk di Sumut saat ini sudah mencapai hampir 12 juta jiwa lebih dan setiap tahunnya terus mengalami peningkatan.
“Pertambahan jumlah penduduk itu juga harus dibarengi dengan pembangunan gedung sekolah seperti madrasah,” ucapnya.
Ditanya berapa jumlah sekolah Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) di Sumut, Solehuddin mengatakan mencapai 128 buah dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) sebanyak 40 sekolah.
Sumut juga memiliki Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) sebanyak 50 buah, Madrasah Tsanawiyah Swasta (MSS) 800 buah dan Madrasah Aliyah Swasta (MAS) 352 buah.
Disamping itu, Sumut juga memiliki 211 pesantren dan tersebar di 33 kabupaten/kota di Sumut, di antaranya terdapat di Kabupaten Madina, Tapanuli Selatan, Langkat, Binjai, Medan, Asahan, Deli Serdang dan daerah lainnya.
Selain itu, di Sumut juga terdapat 37 buah PPS Salafiah (pedidikan wajib belajar Dikdas 9 tahun), 730 Raudatul Atfal( pendidikan sore) dan 1.661 Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA).
“Pendidikan tersebut sangat membantu dan meningkatan pendidikan agama Islam di Sumut,” kata Solehuddin.
PTS Diminta Persiapkan Data Mahasiswa Penerima Beasiswa
Perguruan Tinggi Swasta (PTS) diminta menyiapkan data mahasiswa yang benar-benar layak menerima beasiswa, karena pemerintah akan segera menyalurkan beasiswa untuk mahasiswa dari PTS.
Koordinator Kopertis Wilayah I Sumut/NAD, Prof Zainuddin di Medan, Jumat, mengatakan, tahun ini pihaknya akan menyalurkan Rp22 miliar untuk beasiswa mahasiswa PTS di lingkup Provinsi Sumatra Utara dan Aceh.
Dengan adanya pemberian beasiswa tersebut, diharapkan ke depannya tidak akan ada lagi mahasiswa yang tidak mampu menyelesaikan studinya karena alasan kesulitan keuangan.
Dana yang berasal dari Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) tersebut segera dicairkan setelah Kopertis menerima data mahasiswa yang valid.
“Jika pendataan penerima beasiswa diolah dan dimasukkan untuk bisa diakses secara on line memang sangat baik. Namun data semua ada di universitas, makanya kampus juga harus punya data base yang baik,” katanya.
Biasanya, kata dia, setiap tahun ada 18.000 mahasiswa mendapatkan beasiswa. Namun untuk tahun ini jumlah mahasiswa penerima beasiswa masih terus didalami. Itu disesuaikan dengan kemampuan keuangan pemerintah dan jumlah data yang masuk.
“Setelah kita hitung persentase untuk semua perguruan tinggi di NAD dan Sumut, barulah nanti kita tahu berapa jumlah mahasiswa yang akan mendapat beasiswa itu,” katanya.
Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut, Prof Nur Ahmad Fadhil Lubis, mengatakan, pihaknya sangat mendukung perbaikan data penerima beasiswa guna memudahkan pendataan.
“Selama ini kami sudah melakukan perbaikan data penerima beasiswa itu, termasuk soal informasi beasiswa yang ada di IAIN. Jadi mahasiswa bisa melihat melalui online dan setelah itu mengajukan proposal permohonan beasiswa,” katanya.
Di IAIN, kata dia, jenis beasiswa cukup banyak. Bukan hanya dari dalam negeri atau dari pemerintah, namun juga ada dari luar negeri, seperti dari negara Arab Saudi.
“Biasanya beasiswa tersebut untuk mahasiswa yang berprestasi dan mahasiswa yang kurang mampu dari segi ekonomi,” katanya.
SUNAN BONANG DAN PEMIKIRAN SUFISTIKNYA: Prof. Dr. Abdul Hadi WM
DI kalangan ulama tertentu mungkin peranan Sunan Bonang dianggap tidak begitu menonjol dibanding wali-wali Jawa yang lain.
Bangkitnya Pesantren di Kab. Paluta
Kamis, 20 Maret 2008 00:00 WIB
Pesantren Pemadu Pelopori Usaha Ayam Broiler Di Paluta
Paluta, WASPADA Online
Peternakan ayam broiler (ayam potong) cocok dikembangkan di Kabupaten Padang Lawas Utara dan usaha ini dipelopori Pesantren Modern Al-Hasyimiyah Darul Ulum (Pemadu), Jalan Gunungtua-Langga Payung km 22,5 Sipaho, Kecamatan Halongonan, Agustus 2007.
Direktur/Ketua Yayasan Pemadu Awaluddin Habibi Siregar pada wartawan pekan lalu mengatakan, usaha yang dimotori Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Pemadu telah empat kali panen dengan hasil yang memuaskan. Sekali panen Kopontren Pemadu memperoleh untung sebesar Rp12.000.000 itu berarti dari empat kali panen usaha ini telah menghasilkan keuntungan sampai Rp48.000. 000.
“Memang untuk modal pembuatan kandang, peralatan dan perawatan, pihak Pesantren mengeluarkan dana sampai Rp60.000.000 lebih, sementara PT. Mitra Satwa Pratama (MSP) Medan selaku Bapak Angkat pengembangan usaha ayam broiler ini sesuai kerja sama merupakan penyedia pakan, DOC (anak ayam) dan obat-obatan serta penjual 5.000 ekor ayam potong ke pasaran.
Tetapi setelah lima kali panen nanti, modal Kopontren sudah diinvestasikan diprediksi kuat akan tertutupi,” ujar Ustadz Awaluddin yang saat itu didampingi Manajer Koperasi Zaid Syuhada Purba dan Ketua Koperasi Abdul Mutholib ini. (a21)
Polemik Paderi dan Penjajahan Belanda
MENJAWAB TUDINGAN; ISLAM DISEBARKAN DENGAN KEKERASAN DI TANAH BATAK
Posting ini dimunculkan setelah membaca opini di beberapa situs, milis dan blog yang menuding bahwa penyebaran agama Islam di Tanah Batak dilakukan dengan kekerasan oleh kaum Paderi. Pro dan Kontra tentang hal ini hingga saat ini masih berlangsung, untuk lebih mengetahui kebenaran opini tersebut, berikut ini saya mencoba menampilkan tulisan tentang hal tersebut oleh dr H Ekmal Rusdy DT Sri Paduka (ahli waris penulis perjuangan Tuanku Tambusai, H. Mahidin Said) dimuat pada kolom OPINI diharian Riau Pos halaman 4 Edisi Selasa, 30/10-2007. Sengaja saya kutip lengkap, agar anda dapat mengambil kesimpulan secara utuh.
BENARKAH PADERI MIRIP AL-QAIDA ?
OLEH : Ekmal Rusdy
Majalah Tempo 21 Oktober 2007 memuat “…petisi ini mendesak Pemerintah Indonesia untuk membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan Imam Bonjol adalah Pimpinan Gerakan Wahabi Paderi. Gerakan ini memiliki aliran yang sama dengan Taliban dan Al-Qaida. Invasi Paderi ke tanah Batak menewaskan ribuan orang”. Dibagian lain pada halaman 56 dikatakan “pakaian mereka serba putih”. Persenjataannya cukup kuat. Mereka menurut Parlindungan, memiliki meriam 88 militer bekas milik tentara Napoleon yang dibeli second hand di Penang. Dua perwira Paderi dikirim belajar di Turki. Tuanku Rao, yang aslinya seorang Batak bernama Pongki Nangol-ngolan Sinambela, dikirim untuk belajar taktik Kavaleri. Tuanku Tambusai, aslinya bernama Hamonangan Harahap, belajar soalperbentengan. Pasukan Paderi juga memiliki pendidikan militer di Batusangkar.
Penulis menilai, petisi dan statemen diatas sangat sensitive dan berbahaya. Disayangkan dimuat Majalah Tempo, Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan 1964 mengarang sebuah buku berjudul “ Tuanku Rao”yang selanjutnya disanggah Hamka (1974) dalam bukunya berjudul “ Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao” setebal 364 halaman. Hamka menuding isi buku Parlindungan ini 80 persen bohong, sedangkan sisanya diragukan kebenarannya. Pasalnya setiap kali Hamka menanyakan data buku ini, Parlindungan selalu menjawab “sudah dibakar”. Selain itu Hamka pada halaman 64 mempertanyakan kebenaran berbagai isu yang dilontarkan Parlindungan. Isu yang cukup sensitive pernyataan selama 300 tahun Minangkabau telah menganut mazhab Syiah Qaramithah. Hal ini menurut Hamka dusta besar. Alasan untuk pemurnian Islam di Minangkabau ini disebut Parlindungan sebagai pembantaian bagi pengikut Syiah, sementara keluarga Kerajaan Pagaruruyung termasuk sebagai penghalang cita-cita Darul Islam, sehingga pada 1804 keluarga Istana Pagaruyung dibantai, ribuan rumah dibakar. Maka tak heran kalau referensi Parlindungan yang menggunakan bahan milik Residen Poortman ini mendapat kecaman keras dari parlemen Belanda (1985), malah Pemerintah Belanda memerintahkan untuk melarang beredarnya buku Tuanku Rao yang penuh kebohongan ini.
Poortman posisinya sama dengan Snouck Horgronje. Snouck adalah seorang rang ahli Aceh, yang informasinya diminta oleh pemerintah Belanda, sedangkan Poortman seorang Ahli Batak yang pension pada 1930 dan kembali ke Belanda. Sesungguhnya Parlindungan bukanlah sejarawan. Dia yang besar bual ini memang banyak menulis tentang Tuanku Tambusai, tapi dimana makamnya Tambusai saja dia tak tahu, malah membuat Statemen aneh yang mengatakan masyarakat Padang Lawas yakin betul Tuanku Tambusai “belum mati dan bersembunyi di Dabuan Ulu”. Atau akan muncul lagi di akhir zaman ?
Bohong Parlindungan juga terbaca dari pemutar balikan fakta dari referensi yang digunakan, misalnya yang diperolehnya dari Schnitger, seorang Antropholog Belanda, maupun JB Neuman dalam bukunya Het Panai en Bila Stroomgebied yang dimuat dalam majalah geografi kerajaan Belanda tahun 1885, 1886, 1887 menyebutkan bahwa yang disebut Tongku (maksudnya Datuk Engku atau Tuk Ongku) ini orangnya kaya dengan sifat lemah lembut, lebih memperlihatkan maksud ingin mencapai persetujuan daripada kekuatan. Bukan sebagaimana yang ditulis Tempo (21/10/07) halaman 61, sebagai tukang bantai. Dan tidak benar pula dikatakan “jika penduduk tidak serta merta mau masuk Islam akan segera dibunuh”. Memang Tuanku Tambusai tak hanya sebagai sosok perang yang paling ditakuti Belanda, karena dari berbagai medan pertempuran yang dilalui Tuanku Tambusai, sungguh cukup meyibukkan kaum penjajah, sebagaimana diucapkan D Brakel dalam bukunya De oolog in Ned. Indie, Arnheim (1985) yang menyatakan, “selama perang Paderi, dua tokoh yang menyebabkan Belanda harus berjuang keras untuk begitu lama: Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai. Tanpa kedua orang ini, peperangan bisa dihabisi dalam waktu yang lebih singkat dengan kemenangan pihak Belanda”.
Namun beliau juga adalah juga seorang ulama yang santun dalam menyiarkan agama Islam, terutama bagi yang masih menganut ke percayaan pebegu . Buku Tuanku Rao karangan Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan saja tak layak dan berbahaya untuk dibaca, bagaimana pula dengan buku kedua berjudul “Greet Tuanku Rao” yang ditulis Basyral Hamidy Harahap yang terbit September 2007 ini? Ketua Jurusan Perpustakaan UI 1965-1976 ini ingin mengoreksi tentang Tuanku Rao yang dianggap kurang tepat, tapi pada garis besarnya, ia sependapat bahkan menambahkan data kekerasan yang dilakukan Paderi. Sumber utama dari Parlindungan saja data dan faktanya sudah dibakar, sehingga selaku penulis yang terlihat bersikap ambivalens perlu kita pertanyakan kesehatan cara berpikirnya, atau sekedar mencari sensasi murahan? Bukankah penulis yang bermarga Harahap juga berkomentar miring tentang Tuanku Tambusai yang katanya bernama Hamonangan Harahap?
Nama Tuanku Tambusai didaerah Tapanuli Selatan mempunyai arti khusus, bahkan beliau disapa Ompu Baleo yang artinya Tuanku Beliau. Sekarang nama beliau diabadikan sebagai nama Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Tapsel yang kita bisa dapatkan disana tertulis PDAM Tambusai. Seharusnya adalah PDAM Tuanku Tambusai, karena Tambusai adalah nama kecamatan di Rokan Hulu. Tulisan PDAM Tambusai penulis temui di Sipirok yang kini penduduknya lebih 70 persen Islam. Disana malah ada Pondok Pesantren yang justru banyak menerima santri dari Provinsi Riau, asalnya Tuanku Tambusai.
Sebaiknya mari kita lihat kembali dengan pikiran dan wawasan yang luas, betapa nilai kejuangan jatidiri anak Melayu dari Desa Tambusai bernama Muhammad Saleh ini, sebagaimana hasil perburuan naskah sejarah para ahli di museum sejarah baik di museum nasional di Jakarta maupun di Leiden, Belanda, yang dapat terbaca lewat tulisan penulis militer Belanda yang terlibat langsung sebagai “pelaku sejarah” yaitu Gubernur Militer Michiels dan menantunya yang juga ahli strategis bernama Van Der Hart, maupun penulis Belanda seperti JB Neuman, D Brakel, EB Kielstra, HM Lange dan seorang Antropolog terkenal bernama Schnitger. Tidak ada alasan Tuanku Tambusai “tidak popular di Riau” kecuali bagi orang-orang yang “Tidak tahu bahwa dianya tidak tahu”. Semoga tulisan ini menjadi “obat” bagi yang lupa akan jasa anak jati diri Melayu ini yang untuk pertama kali telah menempatkan potret dan jati diri Anak Melayu Riau itu kedalam album nasional yang sejajar dengan suku bangsa lainnya di Indonesia dalam menegakkan NKRI yang kita cintai. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal dan mengenang jasa pahlawannya sendiri?
